Senin, 26 April 2010

KATA-KATA MUTIARA TENTANG CINTA

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.

Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka

Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.

Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. (Dale Carnagie)

http://renungan-harian-kita.blogspot.com/search/label/Renungan%20tentang%20percintaan

Jumat, 23 April 2010

CITIZEN DRIVEN GOVERNMENT


Oleh : Sony E. Setyawan

Warga Negara adalah raja. Pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. Sebuah cita-cita dan jiwa dari sistem pemerintahan yang demokratis. Yang begitu gencar didengungkan disaat pemilihan umum maupun pilkada. Namun hanya menjadi retorika saja, karena langsung menguap, hilang entah kemana setelah elit memegang kuasa.
Padahal, negara dan pemerintahannya tidak ada artinya tanpa warga negara. Untuk Indonesia, kurang lebih 65 % APBN didanai oleh pajak dari warga negara. Warga negaralah yang membayar gaji para birokrat, politisi yang berkuasa dan anggota dewan perwakilan. Warga negaralah yang membiayai segala fasilitas dan tunjangan yang mereka nikmati. Tapi mengapa justru warga negaralah yang harus melayani apa maunya orang-orang yang ia biayai dan hidupi ?
Melayani warga negara, bisa jadi hanya bunga-bunga pajangan saja di kantor-kantor pemerintahan. Kenyataan bahwa birokrasi kita masih sangat feodalistik, tidak dapat ditutup-tutupi. Dalam lingkaran birokrasi feodalistik, para birokrat adalah “para priyayi”, penguasa yang harus dilayani dan dipuaskan keinginannya oleh rakyat, bukan melayani rakyat.
Sayang sekali, karena kini kita hidup dalam era hiperspeed. Pergerakan barang, uang dan pengetahuan mengelilingi bumi secara intens dalam 24 jam. Kompetisi global tidak hanya antar perusahaan tetapi juga antar negara. Bagaimana mungkin kita bisa bersaing di kancah global yang hiperspeed dan sangat kompetitif bila mindset birokrasi masih feodalistik dan lamban dalam bertindak?
Sangat jelas bahwa pemerintah punya keterbatasan yang sangat banyak. Urusan dalam negeri kita saja banyak sekali yang tidak selesai. Seringkali penangannya asal jadi, asal bapak senang dan bila tidak kunjung selesai, mereka cenderung mencari kambing hitam. Dan penambahan birokrasi untuk melingkupi segala sendi kehidupan dan persoalan warga negara hanya akan memperbanyak masalah ketimbang menyelesaikan masalah. Haruskah kita begini terus hingga negeri ini bubar ?
Sudah saatnya kita menciptakan pemerintahan yang berorientasi pada warga negara (citizen driven government). Kejayaan Negara hanya bisa diperoleh bila warga negaranya makmur sejahtera. Pemerintahan yang berorientasi warga negara adalah pemerintahan yang melayani warga negaranya. Melayani dalam konteks menjadi “pelatih” yang mencurahkan segenap perhatiannya bagi warga negara. Pelatih adalah pemimpin yang selalu berusaha untuk memberdayakan, mengelola kekuatan dan potensi warga negaranya. Pemerintah sebagai organisasi yang memimpin warga negara, jangan hanya melulu mencari dan menutup kelemahan tetapi lebih penting untuk memicu keluarnya kekuatan dari segenap waga negara dan mengelolanya sebaik mungkin untuk kesejahteraan bersama.
Citizen driven government adalah pemerintahan yang menghormati harkat dan martabat warga negaranya. Dilandasi oleh kesadaran bahwa pemerintah adalah organisasi yang dibentuk oleh rakyat, dengan anggotanya berasal dari rakyat dan didaulat untuk melayani rakyat. Kejayaan Negara hanya mungkin terjadi dan langgeng dari generasi ke generasi bila pemerintahannya mampu “melatih” warga negaranya menjadi bangsa yang mandiri dan berdaya. Karena dalam kancah persaingan global, pemerintah, sebagai pelatih, tidak akan mampu berbuat banyak. Justru dinamika warga negaralah yang akan menentukan. Kejayaaan dan kemunduran suatu negara bangsa.
Pemberdayaan warga negara, sangatlah penting dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri, mengangkat harkat dan martabat bangsa, sehingga tiap warga negara Indonesia bisa bangga menjadi orang Indonesia, bangga dilahirkan sebagai orang Indonesia. Dengan rasa bangga itulah segenap rakyat Indonesia membangun negara secara bersama-sama. Daya kreativitas warga negara yang bermartabat dan punya perasaan kebanggaan dan kebangsaan terhadap Indonesia seyogyanya  dicurahkan sepenuhnya  untuk menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan dilandasi dengan etika, moralitas dan penuh rasa bertanggung jawab.
Kisi-kisi kepemimpinan yang memandirikan telah lama dirumuskan oleh begawan pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantoro. Ajaran beliau yaitu ing ngarso sun tulodo, ing madyo mangun karso dan tutwuri handayani, bila diresapi dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab niscaya akan membentuk kemandirian bangsa.
Ajaran Ki Hajar Dewantoro ini, sudah seharusnya menjadi pedoman bagi para politisi yang berkuasa, para birokrat dan anggota dewan. Hal ini dikarenakan fakta bahwa kita bangsa Indonesia masih tergolong ke dalam masyarakat yang low trust.  Pemerintah dan pemimpin-pemimpin masyarakat masih menjadi acuan utama bagi sebagian besar warga negaranya. Sehingga segala tingkah polah pemerintah dan pemimpin masyarakat memjadi pusat perhatian dan sangat mempengaruhi  peri kehidupan masyarakat.
Memandirikan bangsa tidak bisa ditunda-tunda lagi, karena dunia tidak akan menunggu kita. Dalam dunia yang berlari seperti saat ini, perubahan terus terjadi setiap hari, 24 jam tanpa henti. Pergerakan pengetahuan, uang dan barang terus menerus mengalir dengan kecepatan yang semakin meningkat dan biaya yang semakin menurun. Tidak bisa dipungkiri, kita saat ini telah tergerus oleh laju globalisasi, dan gelombang itu terus membesar.

Oleh karenanya, kita tidak saja harus mencetak “orang-orang pintar”, tetapi juga para pemimpin yang berkepribadian. Membangun manusia Indonesia yang berkarakter, sehingga kita bangsa Indonesia tidak hanya memunculkan satu-dua pemimpin besar tetapi jutaan pemimpin, yang mampu mengorganisasikan dirinya dan lingkungannya dengan penuh tanggung jawab. Menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang telah menemukan jati dirinya. Yang telah berdamai dengan masa lalu dan berkarya dengan produktif, kreatif dan bertanggung jawab disaat ini untuk menciptakan masa depan yang lebih baik